Gender, Feminisme, Dan Petunjuk Dalam Book "Perempuan Berkalung Sorban"

 Essay about Gender, Feminisme, Dan Agama Dalam New «Perempuan Berkalung Sorban»

Metode Penelitian Kontak Kualitatif

Gender, Feminisme, dan Agama Dalam Novel

" Perempuan Berkalung Sorban”

Oleh:

Indira Primadhani

06/ 195329/ SP/ 21468

Ilmu Komunikasi

Universitas Gadjah Mada

2009

A. Latar Belakang

Male or female merupakan salahsatu ideologi yang melekat dalam masyarakat yang dikonstruksikan secara sosial dan kultural hingga menimbulkan perbedaan fungsi, peran, dan tanggung jawab berdasarkan jenis kelamin. Perbedaan gender yang berlangsung melalui proses yang sangat panjang kemudian didukung institusi sosial yang terdapat dalam penduduk menyebabkan perbedaan hak, peran, dan status dalam relasi gender. Seolah-olah halnya dengan agama yang menjadi sumber sistem sosial. Studi mengenai feminisme serta agama sering melahirkan berbagai kontroversi. Sebab studi femnisme selalu melibatkan seperangkat cara emosional, yang berpengaruh segera kepada kehidupan manusia. Di satu sisi, emosi keimanan sangat mantap menjaga tradisi agama yang diwarisi dri generasi ke generasi. Dalam sisi lain, semangat dekonstruksi terhadap konvensi patriarkal pada pelaksanaan petunjuk agama akhirnya menjadi corak pemikiran feminisme. Persoalan gender tak akan muncul apabila perbedaan-perbedaan gender berlangsung selaras hingga antara sexuality laki-laki dan perempuan dapat saling melengkapi dan menghargai. Persoalan nampak ketika ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dalam relasi gender sudah melahirkan ketidakadilan terhadap perempuan. Implikasi lebih luas dri ketimpangan gender adalah perempuan banyak kelenyapan hak dan kebebasannya pada mengambil pada keputusan baugs itu yang menyangkut dirinya sendiri maupun masyarakat. Situasi ini terbukti dengan masih banyaknya keine perempuan yang dijadikan warga kelas dua, bahkan diperlakukan tidak adil. Tidak jarang perempuan akhirnya menjadi korban kekerasan fisik serta seksual. Pada novel " Perempuan Berkalung Sorban”, diceritakan mengenai perjuangan seorang perempuan yang mengincar sebuah keadilan. Secara tersirat digambarkan yakni kedudukan perempuan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Adalah perempuan pada sini tidak memiliki hak untuk melakukan apa yang berharap dilakukannya maupun memiliki hak untuk memilih apa yang sekiranya tarpup?dis baginya. Ajaran-ajaran dalam pesantren yang dioperasikan Ayah dari si tokoh utama menempatkan perempuan di kedudukan yang lebih rendah dari so gut wie keine laki-laki, dan hal di sini. berlanjut hingga membuatnya menjadi sebuah tradisi dalam pesantren tersebut. Perempuan dituntut untuk melakukan berbagai macam hobi secara sempurna. Perempuan jua dituntut untuk selalu berperilaku lemah lembut serta menahan seluruh emosinya. Selain itu, perempuan dilarang melakukan hal-hal yang disukainya meskipun hal ini bersifat positif. Semua tersebut selalu dikaitkan dengan petunjuk agama yang menuntut perempuan memiliki berbagai aturan contohnya yang tercantum dalam kitab yang hampir semua diterjemahkan oleh laki-laki. Berbeda halnya dengan laki-laki. Laki-laki pada sini diperbolehkan melakukan apapun yang disukainya. Ia malah tidak harus bekerja keras dan laki-lakipun tidak jadi begitu dikecam ketika ia melakukan tindakan tidak senonoh kepada perempuan. Penelitian ini akan menggunakan metodologi analisis wacana. Sesuatu ini dikarenakan, objek yang diteliti adalah tokoh yang terdapat pada sebuah novel. Oleh sebab itu, penelitian akan diawali dengan mempelajari novel tersebut beserta buku-buku pendukung yang berkaitan dengan teori gender dan agama.

W. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bentuk-bentuk ketidakadilan sexuality yang terdapat dalam new " Perempuan Berkalung Sorban” karya Abidah El Khalieqy. Permasalahan penelitian ini dirumuskan sebagai beserta: Bagaimanakah keterkaitan antara sexuality dan agama dalam pembentukan marginalisasi perempuan dalam book Perempuan Berkalung Sorban; Bagaimanakah agama direpresentasikan oleh so gut wie keine lelaki di dalam novel " Perempuan Berkalung Sorban”; lalu Bagaimanakah pengaruh pemikiran feminisme dalam novel " Perempuan Berkalung...

Gender and Sexual Orientation Research Daily news

News